Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Jumat, 23 Maret 2012

TEBU


TEBU

 

Pengenalan Tanaman

Tebu diduga pertama kali ditemukan di New Guinea pada 6000 SM. Namun, budidaya tanaman ini baru dilakukan pada 1400-1000 SM di India. Dalam bahasa latin, tebu dikenal dengan sebutan 'saccharum', yang berasal dari kata 'karkara' dalam bahasa Sanskrit atau 'sakkara' dalam bahasa Prakrit.
Setelah mengalami persilangan dengan spesies-spesies liar dari India dan Cina, sejak 1000 SM tanaman ini menyebar secara berangsur-angsur ke berbagai belahan dunia, khususnya wilayah tropis, seperti : Hawaii, Mediterania, Karibia, Amerika, akhirnya sampai ke kepulauan Melayu. Saat ini, budidaya tebu telah dilakukan di lebih dari 70 negara di dunia, antara lain : India, Cuba, Brasil, Mexico, Pakistan, Cina, Filipina, Thailand, Indonesia, Malaysia dan Papua Nugini (www.ikisan.com, 2000; Kuntohartono dan Thijsse, 2007).
   Morfologi tanaman tebu dapat dilihat pada Gambar 2. Tebu merupakan sejenis rumput-rumputan yang memiliki ketinggian sekitar 2-4 meter. Secara garis besar, tanaman tebu dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu :
-          Akar : berbentuk serabut, tebal dan berwarna putih
-          Batang : berbentuk ruas-ruas yang dibatasi oleh buku-buku, penampang melintang agak pipih, berwarna hijau kekuningan
-          Daun : berbentuk pelepah, panjang 1-2 m, lebar 4-8 cm, permukaan kasar dan berbulu, berwarna hijau kekuningan hingga hijau tua
-          Bunga : berbentuk bunga majemuk, panjang sekitar 30 cm.
  
Budidaya tebu merupakan upaya manusia untuk mengoptimalkan kondisi tanaman tebu agar memperoleh sumberdaya alam yang dibutuhkannya, sehingga diperoleh hasil panen yang maksimal, baik dilihat dari sisi produktivitas maupun dari sisi kualitas. Tanaman tebu yang banyak dibudidayakan di Indonesia umumnya berasal dari spesies saccharum officinarum (www.ikisan.com, 2000), dengan berbagai varietas, antara lain POY 3016, PS 30, PS 41, PS 38, PS 36, PS 8, BZ 132, BZ 62.
Secara umum, keberhasilan budidaya tebu sangat ditentukan oleh kondisi agroklimat (iklim, topografi dan kesuburan tanah). Tanaman tebu akan tumbuh optimal di wilayah tropis yang lembab, yaitu : berada di antara 350 LS - 390 LS, ketinggian tanah 0 - 1.500 mdpl, suhu udara 28 - 340C, kelembaban minimal 70%, sinar matahari 7 - 9 jam/hari, dan curah hujan 200 mm/bulan.
Pertumbuhan tebu juga didukung oleh sifat-sifat fisik dan kimia dari tanah, seperti : drainase/permeabilitas, tingkat kemasaman, tekstur, serta kandungan organik dan hara tanah. Meskipun tanaman tebu dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah, namun pertumbuhannya akan optimal apabila ditanam pada tanah yang subur, memiliki drainase yang baik (cukup air tetapi tidak tergenang) dan tingkat kemasaman (pH) sekitar 6-7. Sementara tekstur tanah yang sesuai bagi pertumbuhan tebu adalah sedang sampai berat atau menurut klasifikasi tekstur tanah (Buckman and Brady, 1960) adalah lempung, lempung berpasir, lempung berdebu, liat berpasir, liat berlempung, liat berdebu dan liat atau yang tergolong bertekstur agak kasar sampai halus. Ketersediaan unsur hara minimal yang dibutuhkan oleh tanaman tebu, antara lain adalah : kadar N total 1,5 ppm; kadar P2O5  75 ppm; dan kadar K2O 150 ppm (data P3GI).sumber bukunya atau laporan
Pertumbuhan tanaman tebu umumnya berlangsung selama kurang lebih 12 bulan, terhitung mulai ditanam hingga dipanen. Tanaman tebu mengalami 4 (empat) fase pertumbuhan, yaitu :
1.   Fase perkecambahan (germination phase), yaitu dimulai sejak penanaman hingga pembentukan kecambah pada bud (mata), berlangsung selama 30-45 hari, dengan faktor-faktor berpengaruh antara lain : kadar air, suhu dan aereasi tanah, kadar air, kadar gula tereduksi, status nutrien akar.
2.   Fase pertunasan (tillering phase), yaitu fase pembentukan tunas yang akan menentukan populasi tanaman, berlangsung kurang lebih 75 hari, dengan faktor-faktor berpengaruh : sinar matahari, varietas, suhu, kadar air,  pupuk.
3.   Fase pemanjangan batang (grand growth phase), yaitu fase perpanjangan batang tebu, berlangsung sekitar 120-150 hari. Dalam kondisi yang optimal, dimana kebutuhan air, pupuk, suhu udara dan sinar matahari terpenuhi, kecepatan perpanjangan batang dapat mencapai 4-5 ruas per bulan.
4.   Fase pematangan (maturity and ripening phase), yaitu fase pembentukan dan penyimpanan gula, berlangsung sekitar 90 hari. Air dan makanan yang diserap oleh akar diangkut menuju daun. Dengan bantuan sinar matahari, bahan-bahan tersebut akan bereaksi dengan karbondioksida di udara untuk membentuk gula (sukrosa). Gula yang terbentuk disimpan di dalam batang, dimulai dari bagian bawah dan berangsur-angsur naik ke bagian atas batang.
Pada pola monokultur, penanaman tebu umumnya dilakukan : (1) pada bulan Juni - Agustus untuk tanah berpengairan, atau (2) pada akhir musim hujan untuk tanah tegalan atau sawah tadah hujan. Penanaman tebu meliputi berbagai kegiatan, yaitu : Persiapan bibit, berupa bibit pucuk, bibit batang muda, bibit rayungan atau bibit siwilan, dengan kebutuhan sekitar 20.000 bibit per hektar, Persiapan tanah, meliputi kegiatan pembuatan parit dan lubang tanam, Penanaman, dilakukan dengan 2 cara, yaitu: (1) bibit diletakkan di sepanjang aluran, ditutup tanah setebal 2-3 cm, dan disiram; (2) bibit diletakkan melintang di sepanjang selokan, dengan jarak tanam 30-40 cm.
Pemeliharaan tanaman tebu dilakukan secara bertahap, yaitu :
1.        Penyulaman tanaman yang tidak tumbuh dengan baik
2.        Penyiangan gulma di sekitar tanaman
3.        Pembubunan tanah, meliputi pembersihan rumput-rumputan, pembalikan guludan, penghancuran dan penambahan tanah
4.        Perempalan atau pengeletekan, untuk melepaskan daun-daun kering pada ruas-ruas tebu, umumnya dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu : sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang
5.        Pemupukan, umumnya dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu : Pada saat tanam hingga 7 hari setelah tanam, dengan dosis anjuran: 7 gram urea, 8 gram TSP dan 35 gram KCl per tanaman (120 kg urea, 160 kg TSP dan 300 kg KCl per hektar) dan 30 hari setelah pemupukan pertama, dengan dosis anjuran: 10 gram urea per tanaman (200 kg urea per hektar)
6.        Pengairan dan penyiraman, minimal dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu : pada saat penanaman, fase pertumbuhan vegetatif  dan fase pematangan
7.        Pengendalian hama (penggerek, tikus) dan penyakit (fusarium pokkahbung, dongkelan, noda kuning, penyakit nanas, noda cincin, busuk bibit, blendok, virus mozaik) secara rutin.
Kegiatan pemanenan dilakukan pada saat tebu mencapai masak, yaitu kondisi dimana kandungan gula di sepanjang batang seragam, kecuali pada beberapa ruas di bagian pucuk dan pangkal batang. Pada umumnya, kemasakan tebu akan terjadi pada usia tanaman sekitar 12 bulan, dan kriteria yang umumnya digunakan untuk menilai kematangan tebu adalah kandungan sukrosa. Analisa kemasakan tebu pada saat menjelang panen sangat diperlukan untuk mengetahui waktu panen yang paling tepat agar diperoleh rendemen yang optimal.

 

Pola Penyebaran Tanaman tebu di Indonesia dan potensi

Budidaya tanaman tebu dapat dijumpai di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera, dengan pola penyebaran.

Secara keseluruhan, lahan perkebunan tebu di Indonesia saat ini mencapai kurang lebih 400.000 hektar (Tabel 1.), dimana sebagian besar (lebih dari 95%) di antaranya berada di Jawa dan Sumatera, dan sisanya berada di Sulawesi.

Tabel 1.  Lahan Perkebunan Tebu
Nama Provinsi
Luas Kebun (ha)
Persentase (%)
Sumatera Utara
13.140
3,30
Sumatera Selatan
12.479
3,13
Lampung
105.915
26,59
Jawa Barat
21.956
5,51
Jawa Tengah
50.958
12,80
DI Yoyakarta
3.282
0,82
Jawa Timur
171.915
43,17
Sulawesi Selatan
9.398
2,36
Gorontalo
9.217
2,31
TOTAL
398.260
100,00
Sumber : BKPM, 2008.

Secara rinci di bawah ini diuraikan potensi tanaman tebu masing-masing daerah,yaitu :
a.      Jawa Timur
Dengan total lahan tebu seluas 171.915 hektar, saat ini wilayah Jawa Timur merupakan sentra gula terbesar di Indonesia. Departemen Perindustrian melaporkan bahwa pada tahun 2008 Indonesia memiliki 58 pabrik gula (PG), dimana 31 PG tersebut beroperasi di wilayah Jawa Timur dengan kapasitas giling total mencapai 86.278 TCD (ton cannes per day). Di wilayah ini, perkebunan tebu sangat didominasi oleh perkebunan rakyat, sementara pengelolaan pabrik gula dilakukan oleh BUMN, yaitu PTPN X mengelola 11 PG berkapasitas 34.300 TCD, PTPN XI mengelola 16 PG berkapasitas 36.278 TCD, dan PT.RNI I mengelola 4 PG berkapasitas 15.700 TCD.

b.      Lampung
         Sentra gula terbesar kedua di Indonesia adalah Lampung. Di wilayah ini, terdapat PG Bungamayang yang dikelola PTPN VII dengan kapasitas giling 6.250 TCD, dan 4 buah PG berskala besar yang dikelola perusahaan swasta, yaitu PT Gula Putih Mataram, PT Sweet Indo Lampung, PT Indo Lampung Perkasa, dan PT Gunung Madu Plantation, dengan kapasitas produksi total sebesar 650.000 ton/tahun. Saat ini, telah beroperasi sebuah pabrik etanol berskala besar yaitu PT Indo Lampung Distillery, dengan kapasitas produksi sebesar 50 juta liter/tahun.

c.      Jawa Barat
Budidaya tebu terkonsentrasi di wilayah Pantura (Cirebon, Majalengka, Subang dan Kuningan), dan didominasi oleh lahan tegalan tanpa irigasi. Saat ini, wilayah Jawa Barat memiliki 5 PG dengan kapasitas giling total 13.400 TCD.

d.      Jawa Tengah
Perkebunan tebu di wilayah Jawa Tengah terbagi menjadi 2 bagian, yaitu : (1) wilayah Pantura Barat (Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes), pengelolaan kebun oleh PG pada tanaman pertama, kemudian keprasannya dilanjutkan oleh petani, serta (2) wilayah Pantura Selatan dan Timur (Sragen, Tasikmadu, Klaten, Rembang, Pati, Kudus), pengelolaan kebun oleh rakyat. Saat ini, wilayah Jawa Tengah memiliki 8 PG dengan kapasitas giling total 18.985 TCD.

e.      Wilayah Lainnya
Wilayah lain yang telah melakukan budidaya tebu adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Gorontalo, namun dalam jumlah yang masih sangat terbatas. Pabrik gula yang beroperasi di wilayah tersebut berjumlah 8 PG, dengan rincian : 2 PG di Sumatera Utara (8.000 TCD), 1 PG di Sumatera Selatan (5.000 TCD), 1 PG di Yogyakarta (3.250 TCD), 3 PG di  Sulawesi Selatan (8.000 TCD) dan 1 PG di Gorontalo.
         Secara ringkas, kinerja perkebunan tebu dan pabrik gula Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2.






Tabel 2 : Data Statistik Tebu dan Gula Indonesia (2004 – 2008)
Tahun
Luas Lahan (hektar)
Produksi Tebu (ton)
Produksi Gula (ton)
Produktivitas (ton tebu/ha)
Rendemen (%)
2004
344.800
26.754.000
2.052.000
77,59
7,67
2005
381.800
31.139.000
2.242.000
81,56
7,20
2006
384.000
29.101.000
2.267.000
75,78
7,79
2007
400.500
33.292.000
2.660.000
83,13
7,99
2008*
405.600
34.707.000
2.780.000
85,57
8,01
Sumber : Ditjenbun 2009 dan P3GI 2008 (diolah)

Pada periode 2004-2009, perkebunan tebu Indonesia telah mengalami perluasan lahan dari 344.800 hektar menjadi 405.600 hektar, atau rata-rata per tahun sebesar 15.200 hektar; serta peningkatan produksi tebu dari 26.754.000 ton menjadi 34.707.000 ton, atau rata-rata per tahun sebesar 2.000 ton. Di sisi lain, pada periode yang sama produksi gula nasional meningkat dari 2.052.000 ton menjadi 2.780.000 ton, atau rata-rata per tahun sebesar 182.000 ton.
Kinerja kebun dapat dilihat dari produktivitas lahan yaitu berat tebu yang dihasilkan per hektar, sementara kinerja pabrik dapat dilihat dari rendemen yaitu persentase berat gula terhadap berat tebu. Pada tahun 2008, produktivitas lahan yang dicapai oleh perkebunan tebu di Indonesia rata-rata adalah 85,57 ton per hektar, dan rendemen yang dicapai oleh pabrik gula rata-rata adalah 8,01%.

 

PEMANFAATAN SAAT INI

         Tebu dapat diolah menjadi berbagai macam produk, baik untuk keperluan pangan maupun untuk keperluan non pangan, secara umum pohon industri tebu dapat dilihat pada Gambar 4.

         Pengolahan tebu menjadi gula melibatkan serangkaian proses/perlakuan kimia dan fisika yang saling berkaitan satu sama lain, yang secara skematik dapat dilihat pada Gambar 5.

Proses pembuatan gula berbahan baku tebu akan menghasilkan produk utama berupa gula, serta produk samping berupa tetes (molasse), blotong (mud), ampas tebu (bagasse).

a.      Gula (sucrose)
Sebagai produk utama dari pengolahan tebu, pemanfaatan gula di Indonesia masih difokuskan untuk keperluan pangan, baik dikonsumsi secara langsung maupun diolah lebih lanjut menjadi gula rafinasi. Saat ini, nilai rendemen yang dicapai oleh pabrik gula sangat bervariasi, yaitu sekitar 7-9% untuk pabrik gula yang dikelola BUMN, dan sekitar 9-11% untuk pabrik gula yang dikelola swasta.
b.      Tetes (molasses)
Tetes merupakan produk samping dari proses pemisahan sirup low grade dan massecuite (masakan). Tetes tidak layak untuk dikonsumsi langsung karena di dalam tetes terdapat banyak kotoran-kotoran non gula yang dapat membahayakan kesehatan.
Produksi tetes Indonesia sebesar 1,4 juta ton pada tahun 2007, dengan rincian : 0,6 juta ton untuk bahan baku etanol, 0,6 juta ton untuk bahan baku MSG dan pakan ternak, dan sisanya 0,2 juta ton diekspor (Aprobi, 2008).

c.      Ampas (bagasse)
Ampas merupakan hasil samping dari proses ekstraksi tebu, dengan komposisi : 46-52% air, 43-52% sabut dan 2-6% padatan terlarut. Departemen Pertanian melaporkan bahwa produksi tebu nasional saat ini adalah 33 juta ton/tahun (Dirjenbun, 2008). Dengan asumsi bahwa persentase ampas dalam tebu sekitar 30-34%, maka pabrik gula yang ada di Indonesia berpotensi menghasilkan ampas tebu rata-rata sekitar 9,90-11,22 juta ton/tahun.
Saat ini, pemanfaatan ampas yang paling utama adalah bahan bakar boiler di pabrik gula, di samping sebagai bahan baku partikel board, pulp, dan bahan-bahan kimia seperti furfural, xylitol, dan plastik.

d.      Blotong (filter mud)
Blotong merupakan hasil samping dari proses pemurnian nira, berupa padatan yang mengandung sekitar 2-3% gula. Sampai saat ini, pemanfaatan blotong masih terbatas sebagai pupuk.

e.      Pucuk Tebu (top cane)
         Pucuk tebu merupakan sisa hasil panen banyak digunakan sebagai pakan ternak baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk awetan (silase).


Prospek Pemanfaatan Sebagai Bahan Baku Bioenergi

Bioetanol merupakan jenis bahan bakar nabati yang digunakan sebagai substitusi bensin. Senyawa bioetanol terbuat dari tumbuh-tumbuhan, baik berupa bahan bergula, bahan berpati atau bahan berselulosa. Sebagai substitusi bensin, senyawa etanol dipersyaratkan berupa fuel grade ethanol (FGE) dengan kadar etanol minimal 99,5%-volume.
Pada umumnya, campuran bahan bakar bensin dan bioetanol dinyatakan dengan E-X, dimana X menunjukkan persentase bioetanol dalam bahan bakar. Sebagai contoh, E-10 menunjukkan bahwa bahan bakar tersebut terdiri dari 10% FGE dan 90% bensin.

Ketersediaan Bahan Baku
Produk samping dari proses pengolahan gula yang sangat potensial untuk dijadikan bahan baku etanol adalah tetes (molasse), dikarenakan kandungan gula yang masih sangat tinggi, yaitu sekitar 30-35%. Di samping tetes, produk samping lain yang dapat dikonversi menjadi etanol adalah ampas (bagasse), dikarenakan mengandung 37,65% selulosa dan 27,97% hemiselulosa. Namun, saat ini produksi ampas umumnya terserap habis untuk keperluan bahan bakar boiler, sehingga ketersediaan ampas untuk keperluan lainnya sangat terbatas.
Sebagaimana telah disampaikan bahwa pada tahun 2008 produksi tebu nasional sebesar 34,707 juta ton, luas lahan tebu nasional sebesar 405.600 hektar dan produktivitas lahan rata-rata sebesar 85,57 ton tebu per hektar. Dengan asumsi bahwa kandungan tetes dalam tebu sebesar 4,5%, maka setiap hektar kebun tebu berpotensi menghasilkan tetes sekitar 3,85 ton, atau secara nasional produksi tetes diperkirakan mencapai sekitar 1,56 juta ton pada tahun 2008.
Dengan asumsi bahwa faktor konversi tetes menjadi etanol adalah 1 : 4, yaitu untuk menghasilkan 1 liter etanol diperlukan bahan baku sebanyak 4 kg tetes (Aprobi, 2008), maka produksi tetes nasional sebanyak 1,56 juta ton tetes dapat dikonversi menjadi 0,39 juta kliter etanol (FGE). Berdasarkan perhitungan-perhitungan di atas, diperoleh bahwa setiap hektar kebun tebu dapat menghasilkan sekitar 0,96 kliter etanol (FGE). Namun, sekitar 0,6 juta ton tetes dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri MSG dan pakan ternak (Aprobi, 2008), sehingga tetes yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar hanya sekitar 0,96 juta ton tetes, atau setara dengan 0,24 juta kliter etanol (FGE).
Saat ini, terdapat sebanyak 10 pabrik etanol berbahan baku tebu yang beroperasi di Indonesia, dengan produksi total sebesar 183,2 juta liter per tahun, dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 3 : Produksi Bioetanol Indonesia (2004 – 2008)
No
Nama
Perusahaan
Kapasitas       (juta liter/tahun)
Lokasi
1
Molindo Raya Ind
50

Lawang, Jawa Tengah
2
PTPN XI
7

Jatiroto, Jawa Tengah
3
Indo Acidatama
45

Solo, Jawa Tengah
4
Madu Baru
7

Yogyakarta
5
PSA Palimanan
7

Cirebon, Jawa Barat
6
Nabati Saran
3,6

Cirebon, Jawa Barat
7
Indo Lampung Dist
50

Lampung
8
Permata Sakti
5

Medan, Sumut
9
Molasindo
3,6

Medan, Sumut
10
Basis Indah
5

Makassar
Total
183,2


   Sumber : SBRC-IPB. 2009

Di sisi lain, kebutuhan bensin dalam negeri saat ini sekitar 20,44 juta kliter (BPH Migas, 2009). Dalam kondisi saat ini, dimana secara nasional produksi etanol maksimal hanya sebesar 0,24 juta kliter, maka pencapaian target substitusi E-5 memerlukan tambahan produksi etanol sebesar 0,76 juta kliter. Penambahan produksi etanol dapat diperoleh melalui perluasan lahan perkebunan tebu kurang lebih 800.000 hektar.
Negara lain yang menggunakan bahan baku tebu sebagai bioetanol adalah Brazil. Negara tersebut merupakan produsen bioetanol terbesar di dunia, dengan pangsa produksi melampaui 70% dari produksi etanol dunia. Brazil menggunakan bahan baku berupa tebu (campuran nira dan tetes). Dengan lahan perkebunan tebu seluas 3,6 juta hektar pada tahun 2006, Brazil telah memproduksi etanol sebanyak 16,3 milyar liter, sehingga produktivitas yang dicapai oleh Brazil pada tahun 2006 sekitar 4.500 liter etanol per hektar, sementara produktivitas yang dicapai oleh USA sekitar 3.000 liter etanol per hektar.

Daftar Pustakabanyak daftar pustaka tidak ada dalam test


Anonymous. 2007. Flora Kita. Yayasan KEHATI dan Perhimpunan Prosea. Diakses tanggal 5 Mei 2009. http://www.kehati.or.id/florakita/browser.php

_________. 2008. Informasi Spesies Tebu. Plantamor Situs Dunia Tumbuhan. Diakses tanggal 5 Mei 2009. http://www.plantamor.com/index.php?plant=1100

_________. 2009. Pohon Industri Tebu. Diakses tanggal 13 Maret 2009. www.google.com/search/pohon_industri.pdf

BKPM. 2008. Komoditi Investasi. Diakses tanggal 9 April 2009. http://regionalinvestment.com/sipid/id/commodity.php?ic=5 .

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2009. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Seluruh Indonesia menurut Pengusahaan. Diakses tanggal 9 April 2009. www.google.com/search/tebu.xls

Kuntohartono, T. dan Thijsse, JP. 2007. Keanekaragaman Hayati Tumbuhan Indonesia. Diakses tanggal 5 Mei 2009. http://www.kehati.or.id/florakita/browser.php?docsid=698

Kurniawan, Y, Susmiadi, A. dan Toharisman, A. 2005. Potensi Pengembangan Industri Gula sebagai Penghasil Energi di Indonesia. Pengembangan Bioetanol. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Diakses tanggal 5 Mei 2009. http://sugarresearch.org/wp-content/uploads/2008/12/bioenergi.pdf

Kuswurj, R. 2009. Pemanfaatan Produk Hasil Samping Pabrik Gula. Sugar Technology and Resarch. Diakses tanggal 5 Mei 2009. http://www.risvank.com/pemanfaatan-produk-hasil-samping-pabrik-gula.html

Sugiyarta, E. 2008. Perkembangan Penataan Terkini Varietas Tebu di Indonesia. Direktorat Pembenihan dan Sarana Produksi. Forum Komunikasi PBT. Diakses tanggal 5 Mei 2009. http://pengawasbenihtanaman.blogspot.com/2008/12/perkembangan-terkini-penataan-varietas.html
P3GI, Aprobi, DPH Migas, Buckman ????

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar